RSS

Sisi Lain Jepang

26 Feb

Bagaimanakah
menjadi orang yang terpinggirkan? Hmm, sama sekali aku tidak
mempunyai bayangan. Aku berada di bagian luar lingkaran kehidupan
mereka. Tapi, aku tertarik untuk mengamati mereka. Maksudku orang
yang terpinggirkan adalah orang-orang yang dikaruniai Sang Khalik
sebuah kehidupan istimewa, yang mungkin tidak semua orang akan mampu
memikulnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai rumah
(homeless people) dan orang-orang yang dengan
ketidaksempurnaan anggota tubuh (handicapped people).

Entah
sejak kapan aku mulai memperhatikan mereka. Mungkin sejak tinggal di
Jepang, dan akhirnya timbul sebuah pikiran untuk membandingkan
keadaan mereka di negeri kelahiranku dan di negeri sakura.

Aku
sudah berapa kali bertemu dengannya. Di musim dingin ini, yang mana
pada saat suhu terendah sekitar 4 derajat Celcius, cuaca benar-benar
dingin menggigit, apalagi jika disertai dengan rintik-rintik hujan.
Semakin menggigit, bahkan juga untuk 4 lembar pakaian yang aku
kenakan.

Dia
adalah seorang kakek tua. Entah berapa umurnya. Aku tidak
mengetahuinya dengan persis. Selalu pakaian itu yang dikenakannya
setiap aku bertemu dengannya. Sebanyak tiga kali di stasiun di dekat
kampusku dan 2 kali di stasiun yang berada tidak jauh dari asramaku.
Setelan pakaian kumal yang warna biru tuanya telah berganti dengan
coklatnya debu yang mengumpul begitu banyak. Dan menenteng sebuah tas
dengan kumal yang juga hampir sama dengan bajunya. Tempat yang
dipilihnya olehnya selalu sama. Sebuah tempat di depan departement
store di depan pintu keluar
stasiun. Sambil duduk pada bungkusan yang selalu menemaninya dan
mengapit kedua tangannya di bawah ketiak menahan dingin. Lalu lalang
orang seakan abai dengan keberadaannya.

Pertama
kali bertemu dengannya aku kaget. Ternyata, di sebuah negeri yang
terkenal dengan kecanggihan teknologi dan kemajuannya, mereka yang
terpinggirkan juga berada di sini. Tapi, kekagetan itu segera
berganti dengan sebuah kesadaran, kalangan masyarakat bawah memang
senantiasa menjadi orang yang terpinggirkan. Maka, ingatanku kembali
melayang pada sebuah taman yang begitu terkenal di seantero Tokyo.
Kala, aku bersama dengan teman-temanku berkunjung ke sana, kamipun
menemukan mereka, Pada sebuah antrian panjang, sambil menenteng wadah
makanan, mereka senantiasa sabar untuk mendapatkan giliran
mendapatkan makanan gratis. Dan ketika senja sudah menjelang, kala
kami hendak meninggalkan taman itu, wajah-wajah tua kesepian yang
hanya menahan dingin dalam kepitan tangan di bawah ketiak menyapa
kami. Mereka tidur di sepanjang jalan keluar taman itu, hanya
beralaskan selembar kain.

Maka,
bagaimakah cerita tentang orang yang mengais tong sampah untuk
mendapatkan menu makan malam mereka? Aku pikir, hanya di belahan
negera berkembang saja, seperti negeriku, aku akan menemukannya. Tapi
ternyata tidak. Di sebuah malam, di depan sebuah convenience
store (di Jepang disebut dengan
kombini) aku melihatnya. Tak sengaja awalnya. Setelah memarkir sepeda
dan saat hendak masuk ke kombini itu untuk membeli kartu telepon, aku
melihat laki-laki itu. Mengais tong sampah. Aku pikir dia adalah
petugas kebersihan, tapi sebuah heran juga menyelinap: bukankah
petugas kebersihan biasanya bekerja pada pagi hari. Maka, ketika
hendak pulang dan melihat dia memasukkan makanan dan minuman yang
baru didapatkan dari tong sampah ke dalam mulutnya, maka aku menjadi
paham mengapa dia mengais tong sampah itu agak lama. Miris, tentu
saja. Ternyata wajah kemiskinan tidak mengenal kemajuan sebuah
negara.

Lain lagi cerita tentang mereka yang dikaruniai semangat yang membaja
dalam ketidaksempuranaan anggota tubuh. Di Indonesia, mereka
mungkin tidak mendapatkan tempat dengan keterbatasan fasilitas yang
bisa membuat mereka bergerak dalam ruang yang lebih luas. Di negeri
sakura, mereka mendapatkan dukungan fasilitas yang membuat mereka
menjadi manusia yang mandiri. Maka, aku tidak menjadi aneh kala
melihat seorang anak muda dengan sebuah tongkat penunjuk jalan
berjalan sendirian pada suatu hari. Memang telah ada penunjuk jalan
untuk mereka dengan keterbatasan penglihatan di sepanjang jalan. Juga
di tempat-tempat umum lainnya, pada tangga naik atau turun menuju ke
kereta listrik, misalnya. Sederhana tandanya, sebuah jalur kuning
dengan batu-batu kecil yang menonjol yang memungkinkan menimbulkan
bunyi kala bertemu dengan ujung tongkat yang mereka gunakan untuk
memandu. Begitu juga dengan di dalam lift. Biasanya ada huruf braille
yang memungkinan mereka dengan keterbatasan penglihatan bisa
berpergian sendirian tanpa harus terlalu dikhawatirkan.

Maka,
aku menaruh hormat yang pada pemerintah dan masyarakat Jepang dengan
perlakuaan hormat mereka pada orang-orang dengan keterbatasan gerak
sehingga mesti menggunakan bantuan kursi roda untuk beraktivitas.
Malam ini, kala belanja pada sebuah supermarket, aku menatap haru
pada seseorang. Membawa sebuah keranjang belanjaan yang hampir penuh,
dia bergerak dari tempat beradanya bumbu ke tempat sayur dengan
leluasa dengan kursi roda otomatisnya. Dia berbelanja sendiri, tidak
ada yang menemani. Seakan jalur-jalur lebar yang memisahkan
masing-masing rak yang memajang kebutuhan sehari-hari itu pada
supermarket itu memang di sediakan untuknya.

Atau juga pada dua hari lainnya yang berbeda. Saat aku akan menuju ke
rumah temanku dan saat pulang dari kantor pemberi beasiswaku untuk
agenda bulananku, mengambil uang beasiswa. Dua buah peristiwa yang
membuat aku setuju dengan pernyataan ibu seorang teman yang merasa
tersanjung menjadi orang yang menggunakan kursi roda untuk
beraktivitas di negeri doraemon ini. Bagaimana tidak?

Pada
kedua hari itu, aku melihat dua orang anak muda yang tersenyum ceria
pada kursi rodanya yang didorong oleh orang tua mereka. Tapi, di
samping mereka ada petugas stasiun yang mendampingi, mulai sejak
turun dari kereta hingga pintu keluar, seakan mereka ada orang
terhormat. Bahkan, karena ketiadaan lift di stasiun yang selalu aku
lewati jika hendak menuju kantor pemberi beasiswaku, alat bantu
manual yang memungkinkan para pengguna kursi roda bisa menaiki tangga
sudah disiapkan bahkan sejak calon penggunanya baru saja turun dari
kereta. Dan kata-kata “ah sendainya di negeri
kelahiranku, aku juga menemukan hal itu”
langsung berkelebat di kepalaku, dan ketika di sambung dengan sebuah
pertanyaan “kapan yah?”
maka aku tidak menemukan jawabannya.

Sumber: Milis pembaca Nadia

 
3 Comments

Posted by on 26 February 2009 in Pernak-Pernik

 

3 responses to “Sisi Lain Jepang

  1. kakaakin

    27 February 2009 at 08:19

    Memang di negara kita masih banyak yang perlu dibenahi, pelan-pelan kali’ ya. Seperti waktu kemarin aku ke kantor pos, jalur masuk untuk pengguna kursi roda sudah ada. Semoga fasilitas-fasilitas lain untuk saudara-saudara kita yang kurang sempurna akan segera menyusul…

     
  2. yomielow

    27 February 2009 at 11:50

    Terimakasih atas komennya. Maaf saya melupakan sesuatu mencantumkan sumbernya. Ini bukan tulisan saya. Mudah2an lain kali tidak terulang lagi

     
  3. bocahbancar

    28 February 2009 at 01:27

    Iyah saya sudha membaca duluan di postingan pemilik aslinya di sini Mbak..

    Kalo tidak salah yaw he he he..

    http://ingafety.wordpress.com/2009/02/26/sisi-lain-jepang-cerita-tentang-mereka-yang-terpinggirkan/

    Salam Bocahbancar….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Jadwal Sholat



  •  
    %d bloggers like this: